ClassMoriMasuk / Daftar

Artikel pengajaran

Penguatan positif: 5 cara memberikan pujian spesifik

Tim editorial ClassMoriBacaan 4 mnt

Di ruang kelas hutan, Mori si berang-berang mengacungkan jempol di depan papan tulis sementara teman-teman sekelas hewan lainnya mengangkat tangan

"Kerja bagus!" "Hebat sekali!" "Mantap!" Kalimat seperti itu mudah diucapkan, dan anak-anak tersenyum saat mendengarnya. Namun selama satu tahun ajaran, Anda mungkin menyadari sesuatu: setelah mendengar kalimat yang sama puluhan kali, anak-anak nyaris tidak bereaksi lagi. Dan siswa yang paling sering dipuji sering kali adalah mereka yang memang sudah menonjol.

Masalahnya bukan pada pujian itu sendiri, melainkan pujian yang terlalu umum. Saat seorang anak mendengar kata "hebat", ia belum tentu tahu bagian mana yang hebat, sehingga sulit untuk mengulanginya lagi. Pujian yang spesifik memperjelas dua hal: apa yang dilakukan anak, dan mengapa hal itu penting. Penelitian tentang umpan balik dalam psikologi pendidikan secara luas menunjukkan hal yang sama: umpan balik yang ditujukan pada tindakan spesifik dan proses belajar lebih membantu anak menentukan langkah berikutnya dibandingkan umpan balik yang menilai pribadi anak.

Berikut lima pendekatan yang mudah mulai diterapkan di kelas.

1. Sebutkan perilaku yang Anda lihat

Ganti kalimat "Kamu hebat" dengan apa yang baru saja dilakukan anak tersebut.

  • Umum: "Kamu pintar sekali hari ini."
  • Spesifik: "Saat Ibu/Bapak menjelaskan tadi, kamu tetap memperhatikan papan tulis dan mencatat poin-poin penting ke buku catatanmu."

Cara mengujinya dengan cepat: jika kalimat tersebut cocok untuk anak mana pun di kelas, berarti belum cukup spesifik. Memulai dengan kata tindakan akan mempermudah: "Kamu merapikan…", "Kamu berinisiatif untuk…", "Kamu menunggu…"

2. Tambahkan satu kalimat tentang dampaknya

Setelah menyebutkan perilakunya, tambahkan satu kalimat tentang dampaknya. Anak-anak jadi paham mengapa hal itu penting, bukan sekadar karena gurunya menyukainya.

  • "Kamu memungut spidol dari lantai dan merapikannya, jadi kelompok berikutnya bisa menemukannya jauh lebih cepat."
  • "Kamu menunggu sampai Sam selesai bicara sebelum mengangkat tangan, sehingga ia bisa menyampaikan seluruh idenya."

Dampak ini paling efektif jika berkaitan dengan teman sekelas, suasana kelas, atau proses belajar anak itu sendiri, ketimbang "Ibu/Bapak senang sekali." Dengan begitu, anak menghubungkan perilaku baik dengan kehidupan bersama di kelas, bukan sekadar untuk menyenangkan guru.

3. Puji usaha dan strategi, bukan "pintar"

"Kamu pintar sekali" terdengar seperti pujian, tetapi kalimat ini menyoroti bakat yang tidak bisa dikendalikan anak. Saat menghadapi soal yang sulit, mereka mungkin bertanya-tanya: kalau aku salah menjawab ini, apakah artinya aku sebenarnya tidak pintar?

Akan lebih membantu jika Anda menunjukkan strategi yang mereka gunakan atau usaha yang mereka lakukan:

  • "Kamu mencoba membuat gambar, dan dengan cara itu kamu berhasil menemukan jawabannya."
  • "Percobaan pertamamu belum tepat, tapi kamu mau mengerjakannya lagi, dan kali ini kamu memeriksanya dengan sangat teliti."

Pujian seperti ini memberi tahu anak apa yang bisa mereka lakukan saat menemui kesulitan di lain waktu.

4. Sengaja perhatikan anak-anak yang pendiam

Pujian cenderung mengalir kepada anak-anak yang paling sering mengangkat tangan dan paling mudah terlihat. Coba cara ini:

  1. Setiap hari, pilih dua atau tiga siswa untuk diperhatikan, lalu tulis nama mereka di sudut rencana pembelajaran Anda.
  2. Perhatikan hal-hal kecil: mengumpulkan PR tepat waktu, merapikan perlengkapan dengan tenang, atau mengambilkan barang yang jatuh untuk teman sekelas.
  3. Berikan pujian secara pribadi atau dengan suara pelan. Pujian tidak harus selalu disampaikan di depan seluruh kelas.

Setelah satu minggu, tinjau kembali: apakah setiap siswa sudah mendapatkan pujian yang spesifik setidaknya satu kali? Anda hanya bisa mengetahui siapa yang terlewat jika memiliki catatan.

5. Biarkan pujian meninggalkan jejak

Pujian lisan hilang begitu selesai diucapkan. Menyimpan catatan memiliki dua manfaat: anak-anak dapat melihat kembali pencapaian yang telah mereka kumpulkan, dan Anda dapat melihat apakah pujian Anda hanya menumpuk pada beberapa siswa saja.

Ada banyak cara untuk melakukannya: catatan untuk dibawa pulang, papan apresiasi kelas, atau tabel stiker. Kuncinya adalah mencatat alasannya, bukan hanya poinnya. Tiga minggu kemudian, tidak ada yang ingat untuk apa "+1" diberikan, tetapi anak-anak akan ingat "berinisiatif merapikan rak buku."

Kendala yang sering dihadapi

  • Terlalu sibuk hingga lupa: Mulailah dengan tiga pujian spesifik sehari. Anda tidak harus langsung menjangkau setiap anak sekaligus.
  • Anak melakukan sesuatu hanya demi dipuji: Lebih sering jelaskan dampaknya bagi orang lain. Setelah suatu perilaku menjadi kebiasaan yang stabil, kurangi frekuensi pujiannya dan alihkan perhatian ke target perilaku yang baru.
  • Memuji seluruh kelompok: Pujian untuk kelompok juga bisa dibuat spesifik: "Saat kita pindah ruangan barusan, semuanya berbaris sendiri dengan tertib, dan hanya butuh waktu satu menit."
  • Khawatir siswa lain merasa tidak adil: Yang Anda puji adalah perilakunya, bukan orangnya. Sampaikan kepada kelas bahwa kapan pun ada siswa yang melakukan hal yang sama, Anda akan memperhatikan dan mengapresiasinya.